Apa yang akan terjadi pada kondisi mental
seorang manusia apabila dirinya harus rela melalui rute perjalanan yang sama
berulang-ulang kali namun tak kunjung juga mencapai garis finish? apakah lelah,
bosan, kecewa, sedih, atau bahkan marah? atau malah bersyukur?
Manusia selalu bersemangat untuk mencapai apa
yang mereka inginkan. Menentukan tujuan hidup. Membuat Checklist. Melakukan
segala yang ia mampu untuk mencapai Impian. Akupun juga begitu. Ah habis ini
aku begini, begitu dan seterusnya, dan seterusnya. Bersemangat menuju garis
finish. Diiringi dengan berdoa kepada yang Maha Kuasa, "Ya Allah
aku mau ini, tolong berikan kemudahan dan kelancaran".
Orang bilang ketika kita minta sesuatu kepada
Yang Maha Kuasa, maka DIA akan memiliki 3 jawaban
1. YES. Ok saya ACC permintaanmu
wahai hambaKu
2. NO. Ini bukan yang terbaik
untukmu, aku punya rencana yang lebih baik untukmu.
3. WAIT. Akan Ku berikan di waktu
yang terbaik untukmu, sabar ya.
Sering kali bertanya dalam hati,
Apakah benar aku termasuk kategori hamba yang
baik apabila Rabb Seluruh Alam selalu menjawab dan mengabulkan doa-doaku?
Pernah suatu ketika lagi asik makan di penyetan,
tiba-tiba ada pengemis datang. Maka ada 2 respon yang mungkin kita berikan.
Yaitu segera memberi mereka recehan atau mengusir mereka, “Maaf ga ada
uang kecil”. Intinya supaya mereka cepat-cepat pergi dari hadapan
kita.
Aku terkadang penuh tanya, mengira aku hamba
yang baik apabila doa-doa ku segera dikabulkan. Apakah mungkin Tuhan sedang
bosan dengan hambaNya sehingga apapun yang kita minta selalu dikabulkan.
Tidak...
Menurutku doa-doa yang segera dikabulkan bukan
karena kamu hambaNya yang baik atau tidak baik. Itu bukan suatu hal yang bisa
dipertanyakan.
Tapi karena ya itu 'porsi' untukmu, rezekimu,
sudah ditakdirkan khusus untuk kau terima. Semua terjadi sudah atas persetujuan
dari Nya.
Entah hal baik atau tidak baik yang didatangkan
padamu, itu adalah hal terbaik yang telah Allah hadiahkan untukmu. Maka respon
terbaik adalah menerima dan mensyukuri segala yang telah Allah hadirkan
untukmu.
Karena bersyukur adalah sebaik-baiknya respon
yang bisa diberikan. Jika kita terbiasa mensyukuri yang kecil, maka akan mudah
bagi kita mensyukuri hal yang besar.
Namun, apa yang akan terjadi pada kondisi mental
seorang hamba apabila dirinya secara terus menerus melalui rute perjalanan yang
sama berulang-ulang kali namun tak kunjung juga mencapai garis finish? apakah
lelah, bosan, kecewa, sedih, atau bahkan marah? atau malah bersyukur?
Sudah merasa telah melakukan sebaik-baiknya
ikhtiar dan tawakal, namun garis finish tak kunjung juga menampakkan wujudnya.
Jawabannya adalah ‘Ikhlas’. Apa itu ‘ikhlas’?
Bagiku ikhlas itu . . .
Seperti berenang dalam suatu kolam, kamu harus
tau kapan waktunya untuk ‘ mentas’, tak ada manusia yang sanggup renang seumur
hidup
Seperti ketika hendak melahap makanan kemudian
tiba-tiba terjatuh, tak usah kamu ratapi kepergiannya, pasar dan rumah
makan masih banyak yg buka
Seperti berjalan-jalan ditaman penuh bunga,
ingin sekali rasanya memetiknya, tapi tersadar bahwa tidak semua yang memikat
harus terikat
Ikhlas itu seperti pujaan hati yang mulai
terkubur, hanya bisa dilihat dari jauh, sambil menatap ke langit, “Ya
Allah, tolong genggam hatinya agar selalu berada dalam pengawasanMu”
Ikhlas adalah kata lain dari,
Aku setuju dan menerima segala hal yang telah Allah berikan kepadaku, entah bagiku itu sebuah hal baik atau tidak baik, tapi pasti bagi Allah hal itu adalah yang terbaik bagiku, karena Allah memahami dan mengerti apa yang aku butuhkan lebih daripada siapapun
Maka Ikhlas-lah, karena hal tersebut merupakan
sebaik-baiknya ikhtiar dan tawakal.
Jika rute yang kamu lalui secara terus menerus tak kunjung menemui garis finish, yasudah, memangnya cuma itu saja jalur yang bisa dilalui?
Ayo kita coba cara lain.. bahkan rute perjalanan dari rumah menuju kampus pun bisa dilalui oleh 3 atau 4 rute yang berbeda.
Jika rute yang kamu lalui secara terus menerus tak kunjung menemui garis finish, yasudah, memangnya cuma itu saja jalur yang bisa dilalui?
Ayo kita coba cara lain.. bahkan rute perjalanan dari rumah menuju kampus pun bisa dilalui oleh 3 atau 4 rute yang berbeda.
Surabaya, 14 Mei 2020
Komentar
Posting Komentar