Sebagai seseorang yang hidup berjauhan dari orang tua, mereka hampir tiap hari menelpon ku, entah memastikan apakah aku baik-baik saja atau memastikan apakah aku sudah punya pacar apa belum. Dan aku selalu menjawab hal yg sama, hari ini aku melakukan ini dan itu, sepertinya akan begini dan begitu, dan aku masih belum punya pacar.
Sebagai seseorang yang cukup addicted dengan media sosial, orangtua-ku pun tak mau kalah, mereka juga mengikuti dan mengawasi ku lewat sosial media, meski mereka bukan orang terlalu kepo atau terlalu mengusik kehidupan pribadi ku. Namun terkadang di sela-sela obrolan telepon kami, mereka bertanya postingan ini maksudnya apa, kalo yg itu maksudnya apa, dan sebagainya, aku pun mencoba pelan-pelan menjelaskan, karena terkadang ada beberapa hal yg tidak mudah dijelaskan kepada orangtua.
Pernah suatu ketika aku mengikuti challenge blackout poetry oleh keliling art. Salah satu puisinya bertulisan begini, "Tempat perjumpaan dalam dekapan, sang kekasih semoga kita dapat mencurahkan kerinduan"
Kemudian mereka bertanya, "Apakah kamu sedang jatuh cinta? Atau sudah punya pacar?"
Tentu saja aku pertama-tama menjelaskan apa itu blackout poetry, bagaimana cara membuatnya dan sebagainya, juga menjelaskan kalo aku masih belum punya pacar (haha). Sepertinya aku pun masih malu-malu apabila harus menjelaskan tentang kondisi asmaraku. Entah memang malu-malu atau sepertinya tak sanggup mendengar nada kecewa mereka (entahlah).
Sama seperti orangtua-ku, aku pun sebenarnya ada rasa ingin menikah, bukankah berdua lebih baik daripada sendiri, saling mengingatkan, saling melengkapi, saling memahami, saling menyemangati, dan yang paling penting karena sampai kapan pun agama kita tidak akan sempurna tanpa adanya pernikahan. Tapi selalu ingat bahwa menikah dilakukan karena Allah :)
Pertanyaan yang selalu berputar di otakku, sebenernya pernikahan itu apa? Apakah suatu saat aku akan menikah? Bagaimana kehidupan pernikahan itu? Apakah aku bisa hidup bersama dengan orang lain? Apakah ada orang yg mau hidup bersama denganku? Apakah aku pantas menjadi istri dan ibu? Apakah aku bisa menikah? Siapakah yg akan jadi suamiku kelak? Kira-kira bagaimanakah karakter suami kelak? Apakah pernikahan menjamin sebuah kebahagiaan?
Pertanyaan tentang diriku terhadap pernikahan yang tak akan pernah ada habisnya. Disisi lain aku ingin menikah, tapi juga aku cukup meragukan diriku ketika berhadapan dengan pernikahan.
“Marriage is not an achievement, it’s a blessing”
Hidup di Negara Indonesia yang mayoritas masyarakat beranggapan bahwa seolah-olah hidup akan tenang, damai, masalah tuntas apabila sudah menikah. Padahal kehidupan tidak hanya seputar pernikahan saja. Ketika Allah sudah menakdirkan kita menikah ya tentu kita akan menikah, terlalu terburu-buru menikah tanpa persiapan hanya akan menghancurkan diri sendiri dalam gejolak hawa nafsu. Padahal menikah itu seharusnya dilakukan karena Allah. Jika segala sesuatu dilakukan karena Allah, maka hati bisa mudah dibuat tenang dan damai.
Aku pun secara halus sering mendapat tekanan untuk segera menikah, seperti,
“Udah umur berapa? Kok belum nikah?”
“Aku mending gak datang kondangan daripada datang sendiri, mengkannya buruan cari pasangan”
“Kamu jangan banyak milih”
“Emang gak ada yang suka sama kamu?”
“Dapat undangan nikah terus, kapan bagiin undangan?”
“Mangkannya nikah! Biar kemana-mana ada yg menemani”
“Aku umur 24 udah nikah lho, kamu mau sampe kapan betah sendiri terus”
Sejujurnya aku benci sekali kata-kata yang entah ditujukan dengan maksud ingin tahu atau mungkin ingin menyindir. Ya begitulah hidup bersama manusia, kita tidak pernah tau kata-kata kita yang mana yang mungkin melukai hatinya.
Manusia pun mudah dibuat hanyut, terharu dan bahagia begitu mendengar tentang kabar pernikahan orang lain. Bergembira mendengar kisah perjuangan cinta mereka hingga proses akad tiba, menceritakan lewat postingan dunia maya, semua sibuk mengucapkan, “Barakallahu laka wa Baraka ‘alaika wa baina kuma fii khaiir”, dan tak lupa memencet tombol like, oh begitu indahnya takdir mempertemukan cinta keduanya.
Namun kenapa tak banyak yang berbagi tentang kehidupan rumah tangganya, sungguh aku ingin tau bagaimana ‘marriage life’. Aku terkadang ingin meminta pertanggung jawaban terhadap orang-orang yang hanya menceritakan kisah indah sebuah pernikahan, padahal ‘every sweet has its bitter’, membuat orang-orang yang hampir tak pernah merasakan kasih sayang jadi ingin menikah. Kejam sekali kalian para manusia penuh cinta. Padahal menikah bukanlah jawaban dari segala permasalahan hidup. Syukur Alhamdulillah aku hidup bersama kakakku dan istrinya, setidaknya aku cukup tau bagaimana hidup bersama orang lain seumur hidup.
Meski demikian aku tak memungkiri hidupku seorang diri yang ketika kesepian datang, pikiran tentang pernikahan dan teman hidup jadi keinginan, maka aku selalu ucapkan kata ini pada diriku sendiri,
Aku terdiam dan tersenyum, ternyata mudah sekali Allah menunjukkan bahwa selama ini aku telah cukup berikhtiar, namun dengan manisnya Allah menyimpan jawabannya, dan pasti Allah akan berikan di waktu terbaik untukku, karena Allah itu lebih tau apa yang terbaik untuk hambaNya. Dan jika tidak didunia, ya tak usah bersedih, masih ada akhirat yang kekal abadi.
Surabaya, 28 April 2020.
Sebagai seseorang yang cukup addicted dengan media sosial, orangtua-ku pun tak mau kalah, mereka juga mengikuti dan mengawasi ku lewat sosial media, meski mereka bukan orang terlalu kepo atau terlalu mengusik kehidupan pribadi ku. Namun terkadang di sela-sela obrolan telepon kami, mereka bertanya postingan ini maksudnya apa, kalo yg itu maksudnya apa, dan sebagainya, aku pun mencoba pelan-pelan menjelaskan, karena terkadang ada beberapa hal yg tidak mudah dijelaskan kepada orangtua.
Pernah suatu ketika aku mengikuti challenge blackout poetry oleh keliling art. Salah satu puisinya bertulisan begini, "Tempat perjumpaan dalam dekapan, sang kekasih semoga kita dapat mencurahkan kerinduan"
Kemudian mereka bertanya, "Apakah kamu sedang jatuh cinta? Atau sudah punya pacar?"
Tentu saja aku pertama-tama menjelaskan apa itu blackout poetry, bagaimana cara membuatnya dan sebagainya, juga menjelaskan kalo aku masih belum punya pacar (haha). Sepertinya aku pun masih malu-malu apabila harus menjelaskan tentang kondisi asmaraku. Entah memang malu-malu atau sepertinya tak sanggup mendengar nada kecewa mereka (entahlah).
Sama seperti orangtua-ku, aku pun sebenarnya ada rasa ingin menikah, bukankah berdua lebih baik daripada sendiri, saling mengingatkan, saling melengkapi, saling memahami, saling menyemangati, dan yang paling penting karena sampai kapan pun agama kita tidak akan sempurna tanpa adanya pernikahan. Tapi selalu ingat bahwa menikah dilakukan karena Allah :)
Pertanyaan yang selalu berputar di otakku, sebenernya pernikahan itu apa? Apakah suatu saat aku akan menikah? Bagaimana kehidupan pernikahan itu? Apakah aku bisa hidup bersama dengan orang lain? Apakah ada orang yg mau hidup bersama denganku? Apakah aku pantas menjadi istri dan ibu? Apakah aku bisa menikah? Siapakah yg akan jadi suamiku kelak? Kira-kira bagaimanakah karakter suami kelak? Apakah pernikahan menjamin sebuah kebahagiaan?
Pertanyaan tentang diriku terhadap pernikahan yang tak akan pernah ada habisnya. Disisi lain aku ingin menikah, tapi juga aku cukup meragukan diriku ketika berhadapan dengan pernikahan.
“Marriage is not an achievement, it’s a blessing”
Hidup di Negara Indonesia yang mayoritas masyarakat beranggapan bahwa seolah-olah hidup akan tenang, damai, masalah tuntas apabila sudah menikah. Padahal kehidupan tidak hanya seputar pernikahan saja. Ketika Allah sudah menakdirkan kita menikah ya tentu kita akan menikah, terlalu terburu-buru menikah tanpa persiapan hanya akan menghancurkan diri sendiri dalam gejolak hawa nafsu. Padahal menikah itu seharusnya dilakukan karena Allah. Jika segala sesuatu dilakukan karena Allah, maka hati bisa mudah dibuat tenang dan damai.
Aku pun secara halus sering mendapat tekanan untuk segera menikah, seperti,
“Udah umur berapa? Kok belum nikah?”
“Aku mending gak datang kondangan daripada datang sendiri, mengkannya buruan cari pasangan”
“Kamu jangan banyak milih”
“Emang gak ada yang suka sama kamu?”
“Dapat undangan nikah terus, kapan bagiin undangan?”
“Mangkannya nikah! Biar kemana-mana ada yg menemani”
“Aku umur 24 udah nikah lho, kamu mau sampe kapan betah sendiri terus”
Sejujurnya aku benci sekali kata-kata yang entah ditujukan dengan maksud ingin tahu atau mungkin ingin menyindir. Ya begitulah hidup bersama manusia, kita tidak pernah tau kata-kata kita yang mana yang mungkin melukai hatinya.
Manusia pun mudah dibuat hanyut, terharu dan bahagia begitu mendengar tentang kabar pernikahan orang lain. Bergembira mendengar kisah perjuangan cinta mereka hingga proses akad tiba, menceritakan lewat postingan dunia maya, semua sibuk mengucapkan, “Barakallahu laka wa Baraka ‘alaika wa baina kuma fii khaiir”, dan tak lupa memencet tombol like, oh begitu indahnya takdir mempertemukan cinta keduanya.
Namun kenapa tak banyak yang berbagi tentang kehidupan rumah tangganya, sungguh aku ingin tau bagaimana ‘marriage life’. Aku terkadang ingin meminta pertanggung jawaban terhadap orang-orang yang hanya menceritakan kisah indah sebuah pernikahan, padahal ‘every sweet has its bitter’, membuat orang-orang yang hampir tak pernah merasakan kasih sayang jadi ingin menikah. Kejam sekali kalian para manusia penuh cinta. Padahal menikah bukanlah jawaban dari segala permasalahan hidup. Syukur Alhamdulillah aku hidup bersama kakakku dan istrinya, setidaknya aku cukup tau bagaimana hidup bersama orang lain seumur hidup.
Meski demikian aku tak memungkiri hidupku seorang diri yang ketika kesepian datang, pikiran tentang pernikahan dan teman hidup jadi keinginan, maka aku selalu ucapkan kata ini pada diriku sendiri,
Allah will give you what you wish for. In the most beautiful way and in the most perfect momentDan pernah suatu ketika aku bertanya kepada ustadzahku dan jawaban yang ia berikan ialah, “Dek, kamu tau gak kalo ‘Sabar’ itu merupakan salah satu bentuk ikhtiar..”
Aku terdiam dan tersenyum, ternyata mudah sekali Allah menunjukkan bahwa selama ini aku telah cukup berikhtiar, namun dengan manisnya Allah menyimpan jawabannya, dan pasti Allah akan berikan di waktu terbaik untukku, karena Allah itu lebih tau apa yang terbaik untuk hambaNya. Dan jika tidak didunia, ya tak usah bersedih, masih ada akhirat yang kekal abadi.
Surabaya, 28 April 2020.
Komentar
Posting Komentar