Tertulis angka 7. Aku tidak tau apa maksudnya, bisa jadi 7 hari, 7
bulan atau 7 tahun. Tapi aku rasa itulah waktu yang tersisa untukku.
Semuanya terasa begitu jelas, aku masih ingat setiap detail kejadiannya. Meski aku tau hal itu bukanlah hal yang nyata untuk diperdebatkan. Tapi aku tetap saja takut.
Aku memperhatikan pergelangan tanganku, terdapat angka itu, angka 7. Angka itu berjalan mundur seperti 'timer'. Aku rasa itulah waktu yang tersisa untukku. Aku khawatir terus menerus, tak bisa aku alihkan pandanganku darinya. Aku tidak tau bagaimana harus berbuat. Aku takut. Sangat takut.
Jika memang benar bahwa ini adalah petunjuk hidupku yang selanjutnya, lantas aku harus bagaimana? Akankah hidup akan berakhir sampai disini begitu mudah tanpa aku melakukan pencapaian yang berarti?
Sementara aku hanya terfokus pada waktu yang tersisa, disaat itulah dia datang, haruskah aku bersyukur? sedangkan dia bukanlah orang yang kehadirannya aku harapkan
Dia datang. Berdiri di samping kiriku, lalu memanggil namaku dengan lembut, kemudian menarik pergelangan tangan yang dari tadi menenggelamkanku dalam lamunan hingga tak sadar akan kehadirannya.
Semuanya terasa begitu jelas, aku masih ingat setiap detail kejadiannya. Meski aku tau hal itu bukanlah hal yang nyata untuk diperdebatkan. Tapi aku tetap saja takut.
Aku memperhatikan pergelangan tanganku, terdapat angka itu, angka 7. Angka itu berjalan mundur seperti 'timer'. Aku rasa itulah waktu yang tersisa untukku. Aku khawatir terus menerus, tak bisa aku alihkan pandanganku darinya. Aku tidak tau bagaimana harus berbuat. Aku takut. Sangat takut.
Jika memang benar bahwa ini adalah petunjuk hidupku yang selanjutnya, lantas aku harus bagaimana? Akankah hidup akan berakhir sampai disini begitu mudah tanpa aku melakukan pencapaian yang berarti?
Sementara aku hanya terfokus pada waktu yang tersisa, disaat itulah dia datang, haruskah aku bersyukur? sedangkan dia bukanlah orang yang kehadirannya aku harapkan
Dia datang. Berdiri di samping kiriku, lalu memanggil namaku dengan lembut, kemudian menarik pergelangan tangan yang dari tadi menenggelamkanku dalam lamunan hingga tak sadar akan kehadirannya.
Menggenggam erat pergelangan tanganku, dan menaruhnya di belakang
punggungnya.
Menatapku dengan raut wajah yang dapat kubaca, tatapannya yg tajam
dan hangat. Itu yang selalu aku rasa dan ingat.
Aku hanya terdiam, mengedipkan mata berulang kali, dan bertanya - tanya dalam hati tentang apa yang sedang terjadi saat ini.
Aku kehilangan fokus beberapa detik karena kehadiran dan tatapan matanya. Aku kemudian berusaha menarik pergelangan tanganku yang ia sembunyikan dan kembali melihat apakah angka itu semakin berjalan mundur atau bagaimana.
Bola mataku terbelalak dan terheran - heran. Angka itu berhenti, tidak maju atau pun mundur, dia hanya berhenti. Tapi ku yakin itu terjadi karenanya, entah kehadiran, genggaman tangan atau tapapannya. Yang jelas itu karena dia.
Aku bingung tentang apa yang sedang terjadi. kenapa dia bisa berhenti begitu mudah. Kemudian ia memanggil namaku dan tersenyum, "Zen. . ." begitu hangat dan menenangkan.
Dia menarik kembali pergelangan tanganku dan menyembunyikannya ditempat tadi. Lalu ia berkata, "Bukan ini yang seharusnya kamu risaukan .....", sambil menggoyang - goyangkan pergelangan tangaku, lalu dia melanjutkan, "Tapi didepanmu. Duniamu. Realita kehidupanmu. Jangan lagi kamu risaukan sesuatu yang tidak bisa kamu kendalikan. Nanti kamu lelah"
Aku hanya terdiam, mengedipkan mata berulang kali, dan bertanya - tanya dalam hati tentang apa yang sedang terjadi saat ini.
Aku kehilangan fokus beberapa detik karena kehadiran dan tatapan matanya. Aku kemudian berusaha menarik pergelangan tanganku yang ia sembunyikan dan kembali melihat apakah angka itu semakin berjalan mundur atau bagaimana.
Bola mataku terbelalak dan terheran - heran. Angka itu berhenti, tidak maju atau pun mundur, dia hanya berhenti. Tapi ku yakin itu terjadi karenanya, entah kehadiran, genggaman tangan atau tapapannya. Yang jelas itu karena dia.
Aku bingung tentang apa yang sedang terjadi. kenapa dia bisa berhenti begitu mudah. Kemudian ia memanggil namaku dan tersenyum, "Zen. . ." begitu hangat dan menenangkan.
Dia menarik kembali pergelangan tanganku dan menyembunyikannya ditempat tadi. Lalu ia berkata, "Bukan ini yang seharusnya kamu risaukan .....", sambil menggoyang - goyangkan pergelangan tangaku, lalu dia melanjutkan, "Tapi didepanmu. Duniamu. Realita kehidupanmu. Jangan lagi kamu risaukan sesuatu yang tidak bisa kamu kendalikan. Nanti kamu lelah"
Surabaya, 2 Agustus 2018
-Dan ini tentang kisah seorang lelaki
yang kehadirannya tidak diharapkan tetapi ketika berbicara kata-katanya selalu
menghangatkan hati-
Komentar
Posting Komentar