Lelaki dan perempuan bisa jadi sahabat. Tapi akan ada suatu masa, entah salah
satu atau keduanya jatuh cinta satu sama lain. Bisa sementara, di waktu yang
tak tepat, entah terlambat atau mungkin selamanya.
-Dave Matthews Band -
![]() |
| Seperti Bunga Matahari, kehadiranmu selalu menyenangkan, menghangatkan dan menenangkan. |
Aku pertama kali bertemu dengannya 4 tahun
yang lalu, saat itu mungkin kamu masih memperdalam islam dan masih memiliki
seseorang disisi. Sejujurnya aku tidak begitu ingin tau dengan kehidupan
pribadi seseorang. Aku tidak hanya akan bersahabat dengannya, ada beberapa
orang lainnya juga. Hingga saat ini persahabatan kami masih kuat dan bermakna,
perbedaan diantara kami begitu besar yang menjadikan kami bisa saling memahami
satu sama lain, memahami bahwa ada juga orang yang seperti ini dan itu didunia.
Membuat kami saling menerima dan mengerti tentang rahasia bahkan kekurangan
satu sama lain. Saling terbuka dan apa adanya yang membuat persahabatan ini
semakin menyenangkan dan hangat. Keberagaman kami menyebabkan kami bisa
membicarakan tentang topik apapun dari asmara, politik, agama, keluarga dan segalanya,
bahkan ketika aku terpikir tentang sesuatu, selalu langsung membayangkan, “asik
sepertinya nih kalo bahas hal ini sama anak-anak”. Dan tentu ada momen ketika kami berselisih paham, dan itu merupakan bumbu pelengkap persahabatan ini.
Aku merasa selalu siap memberikan seluruh
yang aku miliki kepada mereka, dan bahkan ada seseorang yang
menganggapku, “Zen, kamu jiwa besar sekali, aku jarang menemukan orang
sepertimu”. Aku tidak tersipu mendengarnya karena bagiku mereka
sangat-sangatlah priceless, aku menelusuri dunia bagian manapun, belum tentu
aku bisa menemukan orang-orang seperti mereka yang bisa memahamiku. Aku tak memiliki banyak teman dekat, tapi begitu aku memilikinya, akan ku rawat dengan baik. Jadi apapun yang mereka minta, pasti akan selalu aku
usahakan.
Orang bilang, “persahabatan ideal itu yang bisa menerima dan menyayangi satu sama
lain, meskipun didalamnya terdapat lawan jenis tapi tetap tidak pernah ada rasa
yang tumbuh diantaranya, hanya ada zona pertemanan.”
Jika sahabat-sahabatku yang
aku maksud dalam tulisan ini membaca ini, aku minta maaf yang sebesar-besanya
karena akulah penyebab kekacauan dari persahabatan yang ideal ini.
Bahkan ada yang bilang, “Persahabatan
ini tak lagi sama, ketika gak ada kamu didalamnya.”
Selama 3 bulan ini aku menjalani kehidupan
yang tak pernah aku banyangkan sebelumnya, kesedihan yang sungguh dahsyat
berlarut-larut telah menyedot semua produktivitasku, aku tak lagi bermakna. Aku
bahkan tak mengenali diri-ku sendiri. Hilang, lemah, hancur, kecewa,
bersalah, dan berbagai negativity telah menjadi aku. Aku jatuh cinta
dengan sahabatku.
Dan jatuh cinta tak selamanya
menyenangkan.
Jika mungkin ada yang berpikir bahwa aku
tidak berusaha, tapi sungguh aku telah sangat-sangat berusaha untuk memperbaiki
semuanya, aku pun berusaha mencoba segala cara. Setiap fase itu hadir, kadang
aku menuliskan beberapa tulisan dan puisi untuk melegakan, kadang mendengarkan
lagu-lagu isyana yang melembutkan hati, atau kadang menggambar orang-orang yang
aku sayangi, tapi itu semua hanya sementara dan sama sekali tidak menyembuhkan
aku seutuhnya.
Karena masih tak sanggup menahan gejolak di
dada, aku mencoba memberanikan diri untuk bercerita kepada salah satu dari
mereka, awalnya cukup melegakan. Melepaskan perasaan bersalah yang tak kunjung
usai. Iya aku sungguh sangat merasa bersalah dengan perasaan ini. Karena cinta
hadir di antara persahabataan ini dan di saat yang kurang tepat
dengan orang yang ku yakin hatinya selalu untuk yg lain. Meski kadang aku
berharap, “Apakah tidak ada celah untuk
aku masuk dalam pertimbanganmu?”
Tapi kucukupkan saja, karena apa guna
berharap pada manusia.
Curhat kepada manusia mungkin melegakan
awalnya, tapi itu hanya meringankan masalah bukan menyelesaikannya.
Ditengan-tengah emosiku yang tak bisa kukendalikan, Allah memberiku hadiah
berupa demam-batuk-pilek sekitar seminggu lebih, ditambah aku yang semakin
tidak punya rasa lapar, menjadikan aku semakin lemah tak berdaya. Saat itu pula
ramai-ramai orang membicarakan tentang covid19. Pikiran tak karuan
melayang-layang kesana kemari, “Oh Allah….. Apakah aku akan berakhir seperti ini dan meninggalkan dunia begitu saja?”
Aku tak tau lagi, aku berusaha sembuh dan
berserah diri kepada Allah-ku.
Setelah melalui proses perbincangan yang cukup panjang
dengan Rabb-ku, maka aku putuskan untuk menyatakan perasaanku kepada yang
bersangkutan. Aku sejujurnya sudah menebak respon apa yang akan ia berikan,
tapi tujuanku melakukan ini bukan berharap dia akhirnya mempertimbangkanku, tapi
ya jujur saja diumur ini siapa sih yang tidak berharap demikian (haha), tapi tujuan
utamaku adalah semoga dengan ini aku bisa memperbaiki dan mengembalikkan
semuanya seperti dulu kala saat semua baik-baik saja.
Aku mengirim sebuah voice note.
Cara yang menurutku paling mudah dan tidak menyakitkan untuk dilakukan.
Dan jawaban yang ia berikan ialah, “Gapapa Zen…, setiap
perasaan adalah sebuah proses alami..”
Simple dan bermakna, begitulah dia, sungguh melegakan karena aku tidak jatuh pada orang yang salah.
Meski ternyata aku tidak akan pernah bisa mengembalikan semuanya seperti sedia kala. Ya. Tidak akan pernah bisa. Tapi tak mengapa.
Simple dan bermakna, begitulah dia, sungguh melegakan karena aku tidak jatuh pada orang yang salah.
Meski ternyata aku tidak akan pernah bisa mengembalikan semuanya seperti sedia kala. Ya. Tidak akan pernah bisa. Tapi tak mengapa.
Karena setelah kejadian itu, aku dan dia tak pernah lagi saling berkomunikasi, sepertinya
sama-sama sepemikiran untuk saling menjauh satu sama lain untuk kebaikan
bersama.
Padahal selama ini dia adalah my hotline number. Segala hal selalu aku ceritakan padanya, dari kecelakaan, laptop rusak,
butuh teman makan, kesel sama orang, jalanan macet, galau sama tugas akhir dan entah
apa lagi. Sekarang semuanya tak bisa sama lagi. Memang semua keputusan selalu ada konsekuensinya, tapi alhamdulillah-nya setelah kejadian itu aku jadi lebih
menerima dan mengikhlaskan.
Seseorang mengatakan seperti ini padaku,“Kenapa Zeni yang sekarang sudah tidak seperti yang aku
kenal dulu? sepertinya sesuatu terjadi dalam hidupmu, dan bercerita sana-sini tidak akan menyelesaikan hanya akan semakin memperbesar. Jangan melakukan tindakan untuk sekedar melampiaskan, meski sekedar untuk melegakan hati”
Memang semuanya tidak akan pernah bisa lagi kembali seperti sedia kala, maka mari kita lanjutkan apa yang sudah ada, dengan jujur, ikhlas, sabar, dan syukur.
Jujur, mengakui bahwa memang benar ada perasaan ini and it's okay, it's not a sin.
Ikhlas, menerima bahwa ini semua pasti tidak lepas dari campur tangan Yang Maha Kuasa.
Sabar, tidak semua yang diharap selalu berpihak padamu, kecewa itu lumrah.
Syukur, karena orangnya adalah dia, orang yang sudah cukup kamu kenal.
Diantara semua ekspetasi yang berujung kecewa, dan terlepas dari semua hal yang terjadi, jika boleh aku berharap bahwa aku masih bisa menjadi sahabatmu, dan kembali utuh lagi persahabatan ini. Sejujurnya aku tak peduli entah siapa seseorang yang ada dihatimu, karena hanya menjadi sahabatmu saja, sudah cukup membuatku bahagia.
Surabaya, 19 Maret 2020
Ikhlas, menerima bahwa ini semua pasti tidak lepas dari campur tangan Yang Maha Kuasa.
Sabar, tidak semua yang diharap selalu berpihak padamu, kecewa itu lumrah.
Syukur, karena orangnya adalah dia, orang yang sudah cukup kamu kenal.
Diantara semua ekspetasi yang berujung kecewa, dan terlepas dari semua hal yang terjadi, jika boleh aku berharap bahwa aku masih bisa menjadi sahabatmu, dan kembali utuh lagi persahabatan ini. Sejujurnya aku tak peduli entah siapa seseorang yang ada dihatimu, karena hanya menjadi sahabatmu saja, sudah cukup membuatku bahagia.
Karena hanya diizinkan untuk melihat bunga-bunga yang bermekaran di pekarangan rumahmu saja sudah cukup membuatku bahagia. Meski diantara mereka ada bunga yang tak aku sukai. Melihatnya saja sudah cukup melegakan. Meski aku ingin sekali merawatnya, tapi aku hanyalah tamu bukan pemilik. Namun harap kau ingat, taman penuh bunga berbeda dengan yang gersang.
Surabaya, 19 Maret 2020


Komentar
Posting Komentar